HILANG
Fajar
Hadi Sucahyo - Malang
Hangatnya coklat ini memang tak sehangat pelukanmu
dikamis malam, manisnya coklat ini memang tak semanis setiap ucapan yang kau
latunkan padaku, namun dimana rasa pahit yang tertera pada coklat ini?, sungguh
aku terheran pada coklat kesukaanmu yang katanya terlezat seantero eropa, namun
tak kutemukan setitik pun rasa pahit didalamnya. Dan setelah ini, setelah
kenangan yang telah kita buat, yang katanya dulu hanyalah angan-angan, kini
telah terukir jelas dalam sebuah kenangan nyata tentang cinta kita. Telah
kutemukan bahwa pahitnya coklat ini tak mampu mengalahkan rasa pahitnya hidup
tanpamu.
Aku melihatmu tersenyum manis yang
hampir membuatku gila cinta karenanya, engkau duduk memandang kearah pantai
playa de levante yang katanya termasuk pantai terindah dispanyol. Hembusan
angin, suara ombak, serta tawa ria orang-orang yang sedang menikmati liburan
musim panasnya membuat suasana pagi terasa lebih menyenangkan. Aku melihatmu
duduk hanya ditemani segelas coklat hangat yang hangatnya coklat itu adalah
kebalikan dari sikapmu yang dingin membalas sapaku, tekadku telah bulat, aku
menghampirimu dengan langkah mantap yang terlihat dari gagahnya aku ketika
berjalan kearahmu. “pagi yang indah, seperti mata birumu yang indah” ucapku
sambil duduk disofa yang terletak tepat berada disamping meja tempat coklat
hangatmu kau letakkan, namun engkau hanya terdiam tanpa kata, hanya sebuah
lirikan dan wajah yang setengah menoleh padaku, tak ada isyarat pasti bahwa kau
peduli dengan kalimat sapa yang telah kusiapkan beberapa waktu yang lalu. Dan
yang tersisa hanyalah diam, hening hingga beberapa menit, hanya terdengar suara
gemuruh atap kedai yang tertiup kencangnya angin pantai, hingga akhirnya kau
memandang kearahku dan berkata “permisi…” spontan aku menoleh dan berkata
“iya..”, “apa kau tadi bicara denganku?”
tanyamu padaku dengan wajah datar dan betapa polosnya, sial fikirku, apa
kau tahu berapa lama aku mengumpulkan keberanian hanya untuk bicara dan mendekatimu?, berapa lama aku
terdiam memikirkan sepatah kata untuk menyapamu?, dan saat hal itu terjadi aku
hanya ingin berkata bahwa kala itu kau adalah gadis yang begitu menyebalkan.
“iya, tentu nona, apakah ada gadis
bermata biru yang lain disini?” ucapku sambil memperbaiki posisi duduk. Dan tetap dengan wajah polosmu engkau berkata
“maaf, tak ada yang mengajakku bicara akhir-akhir ini” . mulai kuubah suaraku menjadi seperti
pria yang lebih gagah “jadi kau tak bicara dengan pria akhir-akhir ini?” “tak ada yang menarik perhatianku
selain cokelat, aku mencintainya, mereka manis dan mampu membuatku merasa
tenang dalam setiap hari-hariku” senyum manismu mulai terlihat pada kalimat
cokelat yang kau katakan aku
mengarahkan pandangan padamu serta menyangga kepalaku dengan kedua tangan
diatas meja “bagamaina dengan kopi?” tanyaku kau
pejamkan mata sejenak yang mana itu membuat dirimu lebih terliht manis dan
manja “semua kopi itu pahit, aku tak menyukainya” ucapku dengan nada yang cepat “tentu
saja, karena kopi itu akan selamanya pahit sebelum tercelup senyummu, karena
senyummu, tak ada yang lebih manis darinya” aku tersenyum mencoba merayumu.
Mendengar kalimat itu kau mendongak teragak kaget menatapku, lalu kau sangga
kepalamu dengan kedua tangan seperti yang kulakukan diatas meja, dan dengan
menatap tajam kearahku kau berkata dengan nada sedikit menjengkelkan “kau tahu,
aku tak suka dirayu”. Aku tertawa menutup mata, “tak suka dirayu?, apa aku
sedang bicara dengan gadis lajang?”. Raut wajahmu tak senang melihatku tertawa
, kulihat wajahmu merah mengkerut marah “siapa namamu?” ucapmu dengan nada
tinggi, “jack, jack abagnale” aku bicara santai sambil sesekali tersenyum
ringan “jadi.. siapa namamu nona?. Kau usap bibirmu yang merah dengan tissu
setelah meminum beberapa tengguk cokelat yang hampir dingin “kau tahu jack, kau
sangat menjengkelkan, namaku azalia”. Dan dari situlah, dari sebuah senyuman
yang tak pernah kulihat ada yang lebih indah darinya, dan bola mata yang bahkan
kerlap kerlip bintang tak mampu menandingi indahnya, bersyukur aku mampu
mendengar tawamu dikala itu, dari situ, kisah kita dimulai.
Tawa ditepian pantai playa de levante
hampir tak terdengar lagi, karena matahari semakin tinggi dan hawa panasnya
semakin menjadi, sementara dikedai cokelat yang hanya tersedia minuman dan
jajanan cokelat khas kota villajoyosa, kita masih bercanda tawa serta
berbincang tentang apa yang kita lakukan di tanah semenanjung Iberia itu,
rambut pirangmu yang dari tadi terkena hembusan angin laut membuat kau harus
menguncirnya dan segelas cokelat yang
baru saja kau pesan telah datang lengkap dengan potongan topping cokelat yang
entah apa orang-orang spanyol menyebutnya,
yang jelas itu adalah pelayanan khas kota villajoyosa untuk segelas cokelat hangat yang manis. “jadi, apa yang kau
lakukan dispanyol jack?”, “aku bekerja cukup keras akhir-akhir ini, dan kurasa
aku butuh liburan, dan disinilah aku sekarang, menikmati cokelat hangat
dipantai playa de levante bersamamu”, aku tak tertarik menceritakan kisah
hidupku pada orang lain, bahkan pada saudaraku sendiri, aku selalu menutup
diri, fikirku hanyalah bahwa semua orang butuh privasi. “jadi.. kau sendirian?”
tanyamu sembari melepaskan beberapa kancing baju yang hampir memperlihatkan
setengah dadamu, “apa pekerja..” sudah cukup! Aku menyelanya sebelum kau
menyelesaikan pertanyaanmu, “sudah cukup azalia, aku ingin mendengar
tentangmu”. Kau tertawa kecil memandangku seolah tak adil jika hanya engkau yang
menceritakan sebuah kisah. Nampaknya gemuruh suara ombak dan hembusan angin
pantai larut dalam suasana itu, antusiasmu dalam berbagi pengalaman hidup tak
diragukan lagi semangatnya, sepanjang kau menceritakan tentang keluargamu
sepanjang itu juga tawamu kudengar, tentang ibumu yang sama pirangnya dan
selalu memakai gigi palsu dan ayahmu yang selalu pulang larut malam serta
tetanggamu yang menggilai music rock dan hampir setiap malam menyanyi denganmu,
semuanya terdengar menyenangkan, kau berasal dari Vancouver sebuah kota di
provinsi British Columbia, Canada. katamu kau tak terlalu suka tinggal dikota
terbesar ketiga di Kanada itu, namun setiap kali kutanya kenapa, kau hanya
bilang “aku hanya suka cokelat”.
Jadi itu alasanmu, pergi ke Spanyol hanya untuk sebuah cokelat?,
“hehem..”jawabmu dengan menganggukan kepala. Spanyol memang negara
penghasil cokelat terlezat keempat didunia dan kota La Villajoyosa
menjadi pusat cokelat terlezat di Spanyol setelah kota Barcelona dan Alicante.
Kau serius ketika bilang bahwa tujunmu ke Spanyol hanyalah untuk cokelat,
bahkan kau bilang hampir setiap liburan musim panas kau mengunjungi
beberapa negara hanya untuk sebuah
Theobroma cacao (nama latin untuk cokelat). Cantikmu selalu membuatku kagum
sepanjang obrolan ini, dan kini, kau, gadis Kanada berkulit putih dengan rambut
pirang bergelombang dan satu-satunya gadis bermata biru serta satu-satunya
Chocolicius (julukan untuk pecinta cokelat) yang pernah kutemui, dan satu-satunya
wanita yang sangat menarik perhatianku.
Tentangmu dan tentang coklat, hanya
itu yang kita bicarakan sepanjang hari. Kubilang aku akan mengunjungi Barcelona
besok, dan kau setuju jika kita pergi bersama. Sedang dihari ini terlihat bulan
mulai muncul keluar dari persembunyiannya sementara matahari bersiap untuk
pergi, dan para bintang terlihat tak ingin tersaingi, mereka muncul dengan
kerlap-kerlipnya yang menghiasi langit. Malam ini kita menginap dihotel yang
sama dengan kamar yang sama, kau bilang kau suka kamar yang menghadap langsung
ke arah pantai dan aku mengabulkannya.
Tak banyak yang kita bicarakan pada malam itu, yang kuingat hanyalah aku
tertidur pulas disofa sementara kau masih berdiri memandang keluar
jendela. Mataku masih terasa berat
sedangkan matahari telah terbit kembali dari arah timur, cahayanya menembus
jendela membangunkanku dan kau masih tertelap dengan baju tidurmu yang harusnya
aku menutup mata karenanya, berjalan aku kekamar mandi, membersihkan diri dan
berganti pakaian, serta mempersiapkan segalanya untuk perjalanan kita ke
Barcelona. Aku memandangimu, lihatlah senyuman dalam tidrumu itu, apakah aku
harus membangunkanmu? Bukan, bukan itu pertanyaannya, hanya saja, apakah aku
mampu? Ya tuhan.. sudah cukup sudah, aku tak punya pilihan selain
membangunkanmu karena waktu kita tidaklah banyak. Jarak kota Villajoyosa menuju
Barcelona adalah 511,6 km, memerlukan 4 jam 54 menit untuk sampai menggunkan
mobil dan 6 jam 44 menit jika menggunakan kereta, namun jika kau cukup bodoh
untuk berjalan kaki kesana menggunakan
jalur tercepat S.Antonia – Barcelona 449,0 km, kau masih memerlukan 26 jam
untuk sampai. Aku menepuk-nepuk pipimu yang kemerah-merahan
“bangunlah..bangunlah..” ucapku sambil terus menepuk pipimu, dan tak lama
setelah itu kau terbangun, terkejut menatapku hingga beberapa menit, sebelum
akhirnya kau berdiri dan berjalan kearah kamar mandi, didepan pintu kamar mandi
kau berhenti sejenak menoleh kearahku “maaf” ucapmu sambil menyeringai tertawa
kecil, aku bersandar pada sofa menatap kearah pantai sambil bergumam “gadis
yang rumit”.
Sekitar 5 jam kita di pusat kota
Barcelona, kota terbesar kedua di negara Spanyol dan merupakan ibu kota wilayah
otonom Katalonia. Kita berjalan diatas trotoar, melintasi bangunan-bangunan
tinggi yang masih meningalkan gaya arsitektur romawi, Barcelona juga merupakan
salah satu pusat ekonomi, pariwisata, olahraga, pameran dan budaya dunia, itu
dibuktikan dengan statusnya sebagai salah satu kota global utama di dunia.
Dengan menggengam tanganmu, menikmati indahnya kota Barcelona menjadi sangat
luar biasa, engkau tak henti-hentinya tertawa ketika para pria paruh baya
disekitar taman bunga memberimu sebuah bunga mawar merah, sementara ibu muda
yang baru saja kubantu naik keatas kursi rodanya memberiku buku berjudul
“primer amor” yang berarti cinta pertama, burung dara ditaman itu berterbangan
kesana kemari terbang disekitar kita yang sedang duduk dikursi taman itu,
engkau menatapku dengan wajah yang terlihat lebih manis dari sebelumnya, “cinta
pertama? Dengan ibu itu?” ejekmu sambil tertawa mencubit hidungku hingga
terlihat merah, “sudah diam” ucapku sambil menutup mulutmu yang terus tertawa
dengan tanganku, sedang kau bersandar pada bahu kananku, memelukku dan
meletakkan bunga mawar merah dalam gengganman tanganku , engkau mencium pipi
kananku sambil berkata “primer amor”. Pantas saja banyak bunga mawar dan
penjual buku dijalanan hari ini, ini adalah hari libur nasional Katalan dalam bahasa Spanyol dikenal sebagai Dia de
Sant Jordi dan juga disebut sebagai hari mawar atau el Pia de La Rosa, lebih
singkatnya bahwa ini adalah hari valentine versi orang Katalan di Barcelona.
Legenda Sanit Georgeo’s bermula ketika ia menyelamatkan seorang putri cantik
dari terkaman naga Montblanc, aksi Saint Gerogeo’s dianggap heroik dan romantic
sehingga orang Katalan merayakan Saint Georgeo’s Day dengan suasana yang
romantic, dengan saling bertukar mawar dan buku. Dan senyuman serta pelukan
yang kau berikan ini membuat Saint Georgeo’s Day menjadi lebih romantis
Kucium keningmu “baiklah, ayo ke pusat
cokelat” lalu kugengganm tanganmu menuju “Museo de la Xocolate” pusat bagi para
pecinta cokelat untuk memanjakan gigi-gigi manis mereka di Barcelona, semua
cokelat di sepanjang jalan Museo de la xocolate nampak begitu menggoda, engkau
dari tadi yang mencicipi cokelat dari toko ketoko seakan tak ada bosan dan lelahnya, sedangkan
aku telah menghabiskan dua botol air mineral yang kita beli dipusat kota,
“cobalah” kau menyuapiku dengan sebutir cokelat yang aku meludahkannya setelah
itu, engkau tertawa terbahak-bahak, cokelat pahit itu seakan membuat lidahku
mati rasa sedangkan minumannya sudah terlanjur habis,” cobalah yang ini” aku
menolaknya “cobalah, ini manis” namun kau memaksa dengan menjejalkannya pada
mulutku, dan cokelat yang satu ini memang terasa manis. Sekitar satu jam kita
berjalan dari toko ke toko dan kini aku mulai kelelahan namun kau berkata
padaku bahwa museum “A Sweet Retreat” selalu ingin kau kunjungi, aku tak punya
pilihan selain menuruti apa kemauanmu. Cuacanya mulai terik, kita pergi ke
carrer de comerc 36 dan patung monyet putih raksasa menyambut kita dipintu
gerbang museum itu, kita berjalan melalui gedung yang beraroma cokelat dan
mulutmu tak pernah berhenti mengunyah cokelat sepanjang tur ini, engkau begitu
sumringah melihat banyaknya patung dan monumen yang terbuat dari cokelat mulai
dari minni mouse Louis amstrong, dengan sagrada familia dan kreasi dari Parc
Guell, semua patung-patung itu terbuat dari cokelat yang lezat melalui ukiran
tangan. Lega rasanya keluar dari museum dan mulai menghirup udara segar
kembali, terlihat dari kejauhan engkau berjalan kearahku yang sedang terduduk
dikursi depan museum “senyum dong” ucapmu sambil memamerkan lekukan indah
bibirmu. Aku hanya terdiam, tur ini sudah selesai, aku tak bisa lebih lama lagi
di Spanyol, dan besok aku harus segera pergi dari negara ini “maaf Azalia,
malam ini aku tak bisa membawamu ke kafe Granjas”, engkau cemberut manja
lantaran rencana kita berkunjung ketempat legenda cokelat Barcelona itu
kubatalkan. “apa kau ingin yag lebih baik dari ini?” kau hanya diam menatapku,
mungkin bertanya-tanya tentang apa maksudku, “jika kau mau, aku akan membawaku
ke Tain L’Hermitage, penghasil cokelat ternikmat ketiga didunia” sumringah itu
terlihat jelas melalui senyummu “Prancis” engkau mengatakannnya dengan penuh
semangat, aku hanya menggangguk bertanda iya. “apa kau serius jack?lalu
kapan?dan bagaimana dengan paspor?”, aku tertawa tak kuasa melihat ekspresi
wajahmu yang begitu antusias “azalia, tenanglah semua akan terurus, aku punya
teman yang akan membawa kita kesana” dan malam itu, malam terakhir kita di
Spanyol berakhir dengan bekas ciumanku dikeningmu.
Hari-hari kita berlalu begitu cepat,
setiap malam kita selalu berakhir di tempat yang berbeda, kita melangkah
mengunjungi berbagai negara penghasil cokelat ternama didunia. Tibanya kita
dikota Tain L’Hermitage,Prancis. terkenal dengan keromantisan cokelat yang
mampu membuat siapa saja jatuh cinta padanya adalah cokelat Valrhona milik
Prancis yang menjadi cokelat ternikmat ketiga didunia. Sementara jauh
dipedesaan Belgia mereka menghasilkan cokelat yang lebih nikmat dari itu,
negara Belgia memiliki 6 pabrik ternama dan 16 museum cokelat yang kau dan aku
tak sempat mengunjunginya sewaktu di Belgia, bagaimana sempat, sedangkan kau
begitu menikmati hidangan cokelat Belgia yang dinilai menjadi cokelat ternikmat
kedua didunia, bahkan karena begitu nikmatnya cokelat ini, negara Swiss merasa
tersaingi. Dan itu adalah negara terakhir kita berlibur, Zurich, sebuah kota di
negara Swiss yang bahkan disepanjang jalannya beraromakan cokelat, hampir
setiap rumah disana memiliki bisnis kue yang terbuat dari olahan cokelat murni,
dan tak heran jika Swiss disebut-sebut sebagai negara penghasil cokelat
ternikmat didunia. Semuanya telah berlalu, mungkin kisah kita akan berakhir
disini, esok aku akan mengantarmu pulang ke Vancouver, dan liburan tahun ini
sudah berakhir. Malam ini kita berbincang mengobrolkan sesuatu yang tak
seharusnya kita bicarakan, tertawa, berpegang tangan dan sedikit pelukan, kita
melewatinya dengan indah, hingga saat bola matamu yang biru, biru seperti
lautan yang tenang menatapku dan seketika itu suara canda dan tawa hening,aku
tak bisa berkata apa-apa sedangkan kau hanya diam, senyummu tergambar jelas
memamerkan keindahannya padaku sementara matamu berkaca-kaca, dalam hatiku
berkata “menangiskah engkau?” lalu bibir indahmu itu berucap perlahan dan
pasti, mengucap kata yang mengguncang hatiku, membuatku diam seribu bahasa,yang
membuatku hanya mampu tersenyum kearahmu, kearah bidadari yang entah dari mana
asalnya, ketika itu dengan yakin terucap dari bibirmu “nikahi aku jack”.
Tubuhmu yang hangat memelukku, bibirmu yang indah menciumku, aku merasakannya,
merasakan getaran hebat dalam ciuman itu dimalam sunyi. Kedua tanganku menjamah
wajahmu, meletakkan pada pipi merahmu “aku akan mengantarmu keVancouver esok”.
Sudahkah siap untuk hari ini? tidak,
maksudku apakah aku sudah siap untuk berpisah denganmu. Jalanan di Vancouver
begitu sepi, tak seperti biasanya, aku melihat suasana ini mencurigakan, engkau
tersenyum memegang tanganku erat didalam taksi, tapi yang kulihat didepan sana
begitu mengerikan. STOP!!, teriakku sebelum mereka menyerbu taksi ini dengan
senapan yang tak asing aku melihatnya, beberapa orang dari kejauhan menembaki
taksi kita, mereka orang Serbia, aku kenal betul, mereka teman ayahku, para
mafia Serbia yang licik, tak ada pilihan lagi, aku membongkar tas, mengeluarkan
semua peralatanku, engkau terkejut ketika melihat berbagai senapan api berada
dalam tas yang selama ini kubawa, sopir taksi itu telah mati, engkau
bersembunyi dibalik kursi, sementara aku sibuk menembak keluar jendela mobil,
satu..dua.. mereka tewas seketika, hanya dua fikirku, itu bukan masalah, tapi
yang menjadi masalah adalah engkau begitu ketakutan, tubuhmu menggigil tak
percaya, raut wajahmu ketakutan, menatapku tak mampu berkata apa-apa. Engkau
tetap berada didalam mobil, sementara aku keluar berjalan memeriksa dua mayat
didepan sana. JACK!! Teriakmu kencang, membuatku terkejut menoleh kebelakang,
beberapa orang tengah menyekapmu didalam taksi dan beberapa lainnya diluar
bersiap menembakku, aku telah kehabisan akal, magazineku habis terbuang
sementara yang lain kutinggalkan didalam taksi, seseorang didekat pintu taksi
itu tengah bersiap dengan RPGnya, aku mengambil pistol yang berada disaku mayat
orang Serbia itu dan menembakkannya pada
pria yang sudah siap menembakkan RPGnya, namun sial, aku mengenainya,
mengenai tepat pada rudal RPG itu, dia meledak, semuanya meledak dan engkau ada
didalamnya. AZALIA!!.. aku terpental beberapa meter, terpaku menatap kearah
kobaran api sebelum akhirnya dua orang datang dan membawaku pergi menggunakan
helicopter.
Aku mengingat dengan jelas kisah itu,
aku adalah teman masa kecilmu Azalia, kita kecil bersama di Vancouver
bersekolah disekolah yang sama, aku menyukaimu dan kau tidak pernah tau, karena
aku tak pernah mengatakannya, hingga ketika aku remaja, orang tuaku bercerai,
ayahku pergi ke Serbia dan aku ikut dengannya, sementara ibu menikah dengan
pejabat di Vancouver. Ayaku seorang mafia Serbia dan aku hidup sebagai mafia
hingga dewasa, sebelum akhirnya beberapa bulan yang lalu aku menghianati
anggotaku, dan mereka mencariku hanya untuk sebuah kematian, aku berlari ke
berbagai negara dan akhirnya tanpa disengaja bertemu denganmu di Villajoyosa,
Spanyol. Kala itu aku mendatangimu dengan tetap pada rasa cinta yang masih sama
seperti dulu, namun engkau telah lupa, tak ingat tentangku sedikitpun dan pada
hari itu, aku bertemu denganmu sebagai orang asing, hingga kemarin malam engkau
menyatakan cintamu padaku dan bodohnya aku hanya diam, tak pernah, aku nyatakan
bahwa aku mencintaimu, kuantarkan kau ke Vancouver hari itu, untuk datang menemui orang tuamu,
dan melamarmu dihadapan mereka, namun yang terjadi adalah aku membunuhmu dengan
tanganku sendiri, dua orang temanku dari Sudan datang dan membawaku pergi
dengan helicopter , pergi menjauhi kobaran api yang membakarmu disana. Dan
kini, aku berada diselatan Itali, disebuah kota pantai Apulia, Taranto.
Menggenggam cokelat panas diatas jembatan yang menjadi simbol kota ini, kau
pernah bilang bahwa cokelat kesukaanmu berada di Italia. Hangatnya coklat ini
memang tak sehangat pelukanmu dikamis malam, manisnya coklat ini memang tak
semanis setiap ucapan yang kau latunkan padaku, namun dimana rasa pahit yang
tertera pada coklat ini?, sungguh aku terheran pada coklat kesukaanmu yang
katanya terlezat seantero eropa, namun tak kutemukan setitik pun rasa pahit
didalamnya. Dan setelah ini, setelah kenangan yang telah kita buat, yang
katanya dulu hanyalah angan-angan, kini telah terukir jelas dalam sebuah
kenangan nyata tentang cinta kita. Telah kutemukan bahwa pahitnya coklat ini
tak mampu mengalahkan rasa pahitnya hidup tanpamu. Tapi Memang itulah cokelat,
seperti cintaku padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar