Jumat, 22 Juni 2018

cerpen "HILANG" karya: fajar hadi sucahyo


HILANG
Fajar Hadi Sucahyo - Malang
Hangatnya coklat ini memang tak sehangat pelukanmu dikamis malam, manisnya coklat ini memang tak semanis setiap ucapan yang kau latunkan padaku, namun dimana rasa pahit yang tertera pada coklat ini?, sungguh aku terheran pada coklat kesukaanmu yang katanya terlezat seantero eropa, namun tak kutemukan setitik pun rasa pahit didalamnya. Dan setelah ini, setelah kenangan yang telah kita buat, yang katanya dulu hanyalah angan-angan, kini telah terukir jelas dalam sebuah kenangan nyata tentang cinta kita. Telah kutemukan bahwa pahitnya coklat ini tak mampu mengalahkan rasa pahitnya hidup tanpamu.
          Aku melihatmu tersenyum manis yang hampir membuatku gila cinta karenanya, engkau duduk memandang kearah pantai playa de levante yang katanya termasuk pantai terindah dispanyol. Hembusan angin, suara ombak, serta tawa ria orang-orang yang sedang menikmati liburan musim panasnya membuat suasana pagi terasa lebih menyenangkan. Aku melihatmu duduk hanya ditemani segelas coklat hangat yang hangatnya coklat itu adalah kebalikan dari sikapmu yang dingin membalas sapaku, tekadku telah bulat, aku menghampirimu dengan langkah mantap yang terlihat dari gagahnya aku ketika berjalan kearahmu. “pagi yang indah, seperti mata birumu yang indah” ucapku sambil duduk disofa yang terletak tepat berada disamping meja tempat coklat hangatmu kau letakkan, namun engkau hanya terdiam tanpa kata, hanya sebuah lirikan dan wajah yang setengah menoleh padaku, tak ada isyarat pasti bahwa kau peduli dengan kalimat sapa yang telah kusiapkan beberapa waktu yang lalu. Dan yang tersisa hanyalah diam, hening hingga beberapa menit, hanya terdengar suara gemuruh atap kedai yang tertiup kencangnya angin pantai, hingga akhirnya kau memandang kearahku dan berkata “permisi…” spontan aku menoleh dan berkata “iya..”, “apa kau tadi bicara denganku?”  tanyamu padaku dengan wajah datar dan betapa polosnya, sial fikirku, apa kau tahu berapa lama aku mengumpulkan keberanian hanya  untuk bicara dan mendekatimu?, berapa lama aku terdiam memikirkan sepatah kata untuk menyapamu?, dan saat hal itu terjadi aku hanya ingin berkata bahwa kala itu kau adalah gadis yang begitu menyebalkan.
          “iya, tentu nona, apakah ada gadis bermata biru yang lain disini?” ucapku sambil memperbaiki posisi duduk.                                                                                                  Dan tetap dengan wajah polosmu engkau berkata “maaf, tak ada yang mengajakku bicara akhir-akhir ini” .                                                                                                                  mulai kuubah suaraku menjadi seperti pria yang lebih gagah “jadi kau tak bicara dengan pria akhir-akhir ini?”                                                                                                        “tak ada yang menarik perhatianku selain cokelat, aku mencintainya, mereka manis dan mampu membuatku merasa tenang dalam setiap hari-hariku” senyum manismu mulai terlihat pada kalimat cokelat yang kau katakan                                                                                       aku mengarahkan pandangan padamu serta menyangga kepalaku dengan kedua tangan diatas meja “bagamaina dengan kopi?” tanyaku                                                           kau pejamkan mata sejenak yang mana itu membuat dirimu lebih terliht manis dan manja “semua kopi itu pahit, aku tak menyukainya” ucapku dengan nada yang cepat                                     “tentu saja, karena kopi itu akan selamanya pahit sebelum tercelup senyummu, karena senyummu, tak ada yang lebih manis darinya” aku tersenyum mencoba merayumu. Mendengar kalimat itu kau mendongak teragak kaget menatapku, lalu kau sangga kepalamu dengan kedua tangan seperti yang kulakukan diatas meja, dan dengan menatap tajam kearahku kau berkata dengan nada sedikit menjengkelkan “kau tahu, aku tak suka dirayu”. Aku tertawa menutup mata, “tak suka dirayu?, apa aku sedang bicara dengan gadis lajang?”. Raut wajahmu tak senang melihatku tertawa , kulihat wajahmu merah mengkerut marah “siapa namamu?” ucapmu dengan nada tinggi, “jack, jack abagnale” aku bicara santai sambil sesekali tersenyum ringan “jadi.. siapa namamu nona?. Kau usap bibirmu yang merah dengan tissu setelah meminum beberapa tengguk cokelat yang hampir dingin “kau tahu jack, kau sangat menjengkelkan, namaku azalia”. Dan dari situlah, dari sebuah senyuman yang tak pernah kulihat ada yang lebih indah darinya, dan bola mata yang bahkan kerlap kerlip bintang tak mampu menandingi indahnya, bersyukur aku mampu mendengar tawamu dikala itu, dari situ, kisah kita dimulai.
          Tawa ditepian pantai playa de levante hampir tak terdengar lagi, karena matahari semakin tinggi dan hawa panasnya semakin menjadi, sementara dikedai cokelat yang hanya tersedia minuman dan jajanan cokelat khas kota villajoyosa, kita masih bercanda tawa serta berbincang tentang apa yang kita lakukan di tanah semenanjung Iberia itu, rambut pirangmu yang dari tadi terkena hembusan angin laut membuat kau harus menguncirnya dan segelas cokelat  yang baru saja kau pesan telah datang lengkap dengan potongan topping cokelat yang entah apa orang-orang spanyol menyebutnya,  yang jelas itu adalah pelayanan khas kota villajoyosa untuk segelas cokelat        hangat yang manis. “jadi, apa yang kau lakukan dispanyol jack?”, “aku bekerja cukup keras akhir-akhir ini, dan kurasa aku butuh liburan, dan disinilah aku sekarang, menikmati cokelat hangat dipantai playa de levante bersamamu”, aku tak tertarik menceritakan kisah hidupku pada orang lain, bahkan pada saudaraku sendiri, aku selalu menutup diri, fikirku hanyalah bahwa semua orang butuh privasi. “jadi.. kau sendirian?” tanyamu sembari melepaskan beberapa kancing baju yang hampir memperlihatkan setengah dadamu, “apa pekerja..” sudah cukup! Aku menyelanya sebelum kau menyelesaikan pertanyaanmu, “sudah cukup azalia, aku ingin mendengar tentangmu”. Kau tertawa kecil memandangku seolah tak adil jika hanya engkau yang menceritakan sebuah kisah. Nampaknya gemuruh suara ombak dan hembusan angin pantai larut dalam suasana itu, antusiasmu dalam berbagi pengalaman hidup tak diragukan lagi semangatnya, sepanjang kau menceritakan tentang keluargamu sepanjang itu juga tawamu kudengar, tentang ibumu yang sama pirangnya dan selalu memakai gigi palsu dan ayahmu yang selalu pulang larut malam serta tetanggamu yang menggilai music rock dan hampir setiap malam menyanyi denganmu, semuanya terdengar menyenangkan, kau berasal dari Vancouver sebuah kota di provinsi British Columbia, Canada. katamu kau tak terlalu suka tinggal dikota terbesar ketiga di Kanada itu, namun setiap kali kutanya kenapa, kau hanya bilang       “aku hanya suka cokelat”. Jadi itu alasanmu, pergi ke Spanyol hanya untuk sebuah cokelat?, “hehem..”jawabmu dengan menganggukan kepala. Spanyol memang  negara  penghasil cokelat terlezat keempat didunia dan kota La Villajoyosa menjadi pusat cokelat terlezat di Spanyol setelah kota Barcelona dan Alicante. Kau serius ketika bilang bahwa tujunmu ke Spanyol hanyalah untuk cokelat, bahkan kau bilang hampir setiap liburan musim panas kau mengunjungi beberapa  negara hanya untuk sebuah Theobroma cacao (nama latin untuk cokelat). Cantikmu selalu membuatku kagum sepanjang obrolan ini, dan kini, kau, gadis Kanada berkulit putih dengan rambut pirang bergelombang dan satu-satunya gadis bermata biru serta satu-satunya Chocolicius (julukan untuk pecinta cokelat) yang pernah kutemui, dan satu-satunya wanita yang sangat menarik perhatianku.
          Tentangmu dan tentang coklat, hanya itu yang kita bicarakan sepanjang hari. Kubilang aku akan mengunjungi Barcelona besok, dan kau setuju jika kita pergi bersama. Sedang dihari ini terlihat bulan mulai muncul keluar dari persembunyiannya sementara matahari bersiap untuk pergi, dan para bintang terlihat tak ingin tersaingi, mereka muncul dengan kerlap-kerlipnya yang menghiasi langit. Malam ini kita menginap dihotel yang sama dengan kamar yang sama, kau bilang kau suka kamar yang menghadap langsung ke arah pantai dan aku mengabulkannya.  Tak banyak yang kita bicarakan pada malam itu, yang kuingat hanyalah aku tertidur pulas disofa sementara kau masih berdiri memandang keluar jendela.  Mataku masih terasa berat sedangkan matahari telah terbit kembali dari arah timur, cahayanya menembus jendela membangunkanku dan kau masih tertelap dengan baju tidurmu yang harusnya aku menutup mata karenanya, berjalan aku kekamar mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian, serta mempersiapkan segalanya untuk perjalanan kita ke Barcelona. Aku memandangimu, lihatlah senyuman dalam tidrumu itu, apakah aku harus membangunkanmu? Bukan, bukan itu pertanyaannya, hanya saja, apakah aku mampu? Ya tuhan.. sudah cukup sudah, aku tak punya pilihan selain membangunkanmu karena waktu kita tidaklah banyak. Jarak kota Villajoyosa menuju Barcelona adalah 511,6 km, memerlukan 4 jam 54 menit untuk sampai menggunkan mobil dan 6 jam 44 menit jika menggunakan kereta, namun jika kau cukup bodoh untuk berjalan kaki kesana  menggunakan jalur tercepat S.Antonia – Barcelona 449,0 km, kau masih memerlukan 26 jam untuk sampai. Aku menepuk-nepuk pipimu yang kemerah-merahan “bangunlah..bangunlah..” ucapku sambil terus menepuk pipimu, dan tak lama setelah itu kau terbangun, terkejut menatapku hingga beberapa menit, sebelum akhirnya kau berdiri dan berjalan kearah kamar mandi, didepan pintu kamar mandi kau berhenti sejenak menoleh kearahku “maaf” ucapmu sambil menyeringai tertawa kecil, aku bersandar pada sofa menatap kearah pantai sambil bergumam “gadis yang rumit”.
          Sekitar 5 jam kita di pusat kota Barcelona, kota terbesar kedua di negara Spanyol dan merupakan ibu kota wilayah otonom Katalonia. Kita berjalan diatas trotoar, melintasi bangunan-bangunan tinggi yang masih meningalkan gaya arsitektur romawi, Barcelona juga merupakan salah satu pusat ekonomi, pariwisata, olahraga, pameran dan budaya dunia, itu dibuktikan dengan statusnya sebagai salah satu kota global utama di dunia. Dengan menggengam tanganmu, menikmati indahnya kota Barcelona menjadi sangat luar biasa, engkau tak henti-hentinya tertawa ketika para pria paruh baya disekitar taman bunga memberimu sebuah bunga mawar merah, sementara ibu muda yang baru saja kubantu naik keatas kursi rodanya memberiku buku berjudul “primer amor” yang berarti cinta pertama, burung dara ditaman itu berterbangan kesana kemari terbang disekitar kita yang sedang duduk dikursi taman itu, engkau menatapku dengan wajah yang terlihat lebih manis dari sebelumnya, “cinta pertama? Dengan ibu itu?” ejekmu sambil tertawa mencubit hidungku hingga terlihat merah, “sudah diam” ucapku sambil menutup mulutmu yang terus tertawa dengan tanganku, sedang kau bersandar pada bahu kananku, memelukku dan meletakkan bunga mawar merah dalam gengganman tanganku , engkau mencium pipi kananku sambil berkata “primer amor”. Pantas saja banyak bunga mawar dan penjual buku dijalanan hari ini, ini adalah hari libur nasional Katalan  dalam bahasa Spanyol dikenal sebagai Dia de Sant Jordi dan juga disebut sebagai hari mawar atau el Pia de La Rosa, lebih singkatnya bahwa ini adalah hari valentine versi orang Katalan di Barcelona. Legenda Sanit Georgeo’s bermula ketika ia menyelamatkan seorang putri cantik dari terkaman naga Montblanc, aksi Saint Gerogeo’s dianggap heroik dan romantic sehingga orang Katalan merayakan Saint Georgeo’s Day dengan suasana yang romantic, dengan saling bertukar mawar dan buku. Dan senyuman serta pelukan yang kau berikan ini membuat Saint Georgeo’s Day menjadi lebih romantis
          Kucium keningmu “baiklah, ayo ke pusat cokelat” lalu kugengganm tanganmu menuju “Museo de la Xocolate” pusat bagi para pecinta cokelat untuk memanjakan gigi-gigi manis mereka di Barcelona, semua cokelat di sepanjang jalan Museo de la xocolate nampak begitu menggoda, engkau dari tadi yang mencicipi cokelat dari toko ketoko  seakan tak ada bosan dan lelahnya, sedangkan aku telah menghabiskan dua botol air mineral yang kita beli dipusat kota, “cobalah” kau menyuapiku dengan sebutir cokelat yang aku meludahkannya setelah itu, engkau tertawa terbahak-bahak, cokelat pahit itu seakan membuat lidahku mati rasa sedangkan minumannya sudah terlanjur habis,” cobalah yang ini” aku menolaknya “cobalah, ini manis” namun kau memaksa dengan menjejalkannya pada mulutku, dan cokelat yang satu ini memang terasa manis. Sekitar satu jam kita berjalan dari toko ke toko dan kini aku mulai kelelahan namun kau berkata padaku bahwa museum “A Sweet Retreat” selalu ingin kau kunjungi, aku tak punya pilihan selain menuruti apa kemauanmu. Cuacanya mulai terik, kita pergi ke carrer de comerc 36 dan patung monyet putih raksasa menyambut kita dipintu gerbang museum itu, kita berjalan melalui gedung yang beraroma cokelat dan mulutmu tak pernah berhenti mengunyah cokelat sepanjang tur ini, engkau begitu sumringah melihat banyaknya patung dan monumen yang terbuat dari cokelat mulai dari minni mouse Louis amstrong, dengan sagrada familia dan kreasi dari Parc Guell, semua patung-patung itu terbuat dari cokelat yang lezat melalui ukiran tangan. Lega rasanya keluar dari museum dan mulai menghirup udara segar kembali, terlihat dari kejauhan engkau berjalan kearahku yang sedang terduduk dikursi depan museum “senyum dong” ucapmu sambil memamerkan lekukan indah bibirmu. Aku hanya terdiam, tur ini sudah selesai, aku tak bisa lebih lama lagi di Spanyol, dan besok aku harus segera pergi dari negara ini “maaf Azalia, malam ini aku tak bisa membawamu ke kafe Granjas”, engkau cemberut manja lantaran rencana kita berkunjung ketempat legenda cokelat Barcelona itu kubatalkan. “apa kau ingin yag lebih baik dari ini?” kau hanya diam menatapku, mungkin bertanya-tanya tentang apa maksudku, “jika kau mau, aku akan membawaku ke Tain L’Hermitage, penghasil cokelat ternikmat ketiga didunia” sumringah itu terlihat jelas melalui senyummu “Prancis” engkau mengatakannnya dengan penuh semangat, aku hanya menggangguk bertanda iya. “apa kau serius jack?lalu kapan?dan bagaimana dengan paspor?”, aku tertawa tak kuasa melihat ekspresi wajahmu yang begitu antusias “azalia, tenanglah semua akan terurus, aku punya teman yang akan membawa kita kesana” dan malam itu, malam terakhir kita di Spanyol berakhir dengan bekas ciumanku dikeningmu.
          Hari-hari kita berlalu begitu cepat, setiap malam kita selalu berakhir di tempat yang berbeda, kita melangkah mengunjungi berbagai negara penghasil cokelat ternama didunia. Tibanya kita dikota Tain L’Hermitage,Prancis. terkenal dengan keromantisan cokelat yang mampu membuat siapa saja jatuh cinta padanya adalah cokelat Valrhona milik Prancis yang menjadi cokelat ternikmat ketiga didunia. Sementara jauh dipedesaan Belgia mereka menghasilkan cokelat yang lebih nikmat dari itu, negara Belgia memiliki 6 pabrik ternama dan 16 museum cokelat yang kau dan aku tak sempat mengunjunginya sewaktu di Belgia, bagaimana sempat, sedangkan kau begitu menikmati hidangan cokelat Belgia yang dinilai menjadi cokelat ternikmat kedua didunia, bahkan karena begitu nikmatnya cokelat ini, negara Swiss merasa tersaingi. Dan itu adalah negara terakhir kita berlibur, Zurich, sebuah kota di negara Swiss yang bahkan disepanjang jalannya beraromakan cokelat, hampir setiap rumah disana memiliki bisnis kue yang terbuat dari olahan cokelat murni, dan tak heran jika Swiss disebut-sebut sebagai negara penghasil cokelat ternikmat didunia. Semuanya telah berlalu, mungkin kisah kita akan berakhir disini, esok aku akan mengantarmu pulang ke Vancouver, dan liburan tahun ini sudah berakhir. Malam ini kita berbincang mengobrolkan sesuatu yang tak seharusnya kita bicarakan, tertawa, berpegang tangan dan sedikit pelukan, kita melewatinya dengan indah, hingga saat bola matamu yang biru, biru seperti lautan yang tenang menatapku dan seketika itu suara canda dan tawa hening,aku tak bisa berkata apa-apa sedangkan kau hanya diam, senyummu tergambar jelas memamerkan keindahannya padaku sementara matamu berkaca-kaca, dalam hatiku berkata “menangiskah engkau?” lalu bibir indahmu itu berucap perlahan dan pasti, mengucap kata yang mengguncang hatiku, membuatku diam seribu bahasa,yang membuatku hanya mampu tersenyum kearahmu, kearah bidadari yang entah dari mana asalnya, ketika itu dengan yakin terucap dari bibirmu “nikahi aku jack”. Tubuhmu yang hangat memelukku, bibirmu yang indah menciumku, aku merasakannya, merasakan getaran hebat dalam ciuman itu dimalam sunyi. Kedua tanganku menjamah wajahmu, meletakkan pada pipi merahmu “aku akan mengantarmu keVancouver esok”.
          Sudahkah siap untuk hari ini? tidak, maksudku apakah aku sudah siap untuk berpisah denganmu. Jalanan di Vancouver begitu sepi, tak seperti biasanya, aku melihat suasana ini mencurigakan, engkau tersenyum memegang tanganku erat didalam taksi, tapi yang kulihat didepan sana begitu mengerikan. STOP!!, teriakku sebelum mereka menyerbu taksi ini dengan senapan yang tak asing aku melihatnya, beberapa orang dari kejauhan menembaki taksi kita, mereka orang Serbia, aku kenal betul, mereka teman ayahku, para mafia Serbia yang licik, tak ada pilihan lagi, aku membongkar tas, mengeluarkan semua peralatanku, engkau terkejut ketika melihat berbagai senapan api berada dalam tas yang selama ini kubawa, sopir taksi itu telah mati, engkau bersembunyi dibalik kursi, sementara aku sibuk menembak keluar jendela mobil, satu..dua.. mereka tewas seketika, hanya dua fikirku, itu bukan masalah, tapi yang menjadi masalah adalah engkau begitu ketakutan, tubuhmu menggigil tak percaya, raut wajahmu ketakutan, menatapku tak mampu berkata apa-apa. Engkau tetap berada didalam mobil, sementara aku keluar berjalan memeriksa dua mayat didepan sana. JACK!! Teriakmu kencang, membuatku terkejut menoleh kebelakang, beberapa orang tengah menyekapmu didalam taksi dan beberapa lainnya diluar bersiap menembakku, aku telah kehabisan akal, magazineku habis terbuang sementara yang lain kutinggalkan didalam taksi, seseorang didekat pintu taksi itu tengah bersiap dengan RPGnya, aku mengambil pistol yang berada disaku mayat orang Serbia itu dan menembakkannya pada  pria yang sudah siap menembakkan RPGnya, namun sial, aku mengenainya, mengenai tepat pada rudal RPG itu, dia meledak, semuanya meledak dan engkau ada didalamnya. AZALIA!!.. aku terpental beberapa meter, terpaku menatap kearah kobaran api sebelum akhirnya dua orang datang dan membawaku pergi menggunakan helicopter.
          Aku mengingat dengan jelas kisah itu, aku adalah teman masa kecilmu Azalia, kita kecil bersama di Vancouver bersekolah disekolah yang sama, aku menyukaimu dan kau tidak pernah tau, karena aku tak pernah mengatakannya, hingga ketika aku remaja, orang tuaku bercerai, ayahku pergi ke Serbia dan aku ikut dengannya, sementara ibu menikah dengan pejabat di Vancouver. Ayaku seorang mafia Serbia dan aku hidup sebagai mafia hingga dewasa, sebelum akhirnya beberapa bulan yang lalu aku menghianati anggotaku, dan mereka mencariku hanya untuk sebuah kematian, aku berlari ke berbagai negara dan akhirnya tanpa disengaja bertemu denganmu di Villajoyosa, Spanyol. Kala itu aku mendatangimu dengan tetap pada rasa cinta yang masih sama seperti dulu, namun engkau telah lupa, tak ingat tentangku sedikitpun dan pada hari itu, aku bertemu denganmu sebagai orang asing, hingga kemarin malam engkau menyatakan cintamu padaku dan bodohnya aku hanya diam, tak pernah, aku nyatakan bahwa aku mencintaimu, kuantarkan kau ke Vancouver  hari itu, untuk datang menemui orang tuamu, dan melamarmu dihadapan mereka, namun yang terjadi adalah aku membunuhmu dengan tanganku sendiri, dua orang temanku dari Sudan datang dan membawaku pergi dengan helicopter , pergi menjauhi kobaran api yang membakarmu disana. Dan kini, aku berada diselatan Itali, disebuah kota pantai Apulia, Taranto. Menggenggam cokelat panas diatas jembatan yang menjadi simbol kota ini, kau pernah bilang bahwa cokelat kesukaanmu berada di Italia. Hangatnya coklat ini memang tak sehangat pelukanmu dikamis malam, manisnya coklat ini memang tak semanis setiap ucapan yang kau latunkan padaku, namun dimana rasa pahit yang tertera pada coklat ini?, sungguh aku terheran pada coklat kesukaanmu yang katanya terlezat seantero eropa, namun tak kutemukan setitik pun rasa pahit didalamnya. Dan setelah ini, setelah kenangan yang telah kita buat, yang katanya dulu hanyalah angan-angan, kini telah terukir jelas dalam sebuah kenangan nyata tentang cinta kita. Telah kutemukan bahwa pahitnya coklat ini tak mampu mengalahkan rasa pahitnya hidup tanpamu. Tapi Memang itulah cokelat, seperti cintaku padamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar